Antisipasi El Nino Panjang, Muchlis Ariston Desak Langkah Taktis Amankan Irigasi

Semarang — Anggota Komisi D Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Jawa Tengah,  Much. Muchlis Ariston meminta Pemerintah Provinsi Jawa Tengah segera mengambil langkah taktis dan strategis, guna mengantisipasi dampak fenomena El Nino panjang di sektor pertanian. Langkah mitigasi yang komprehensif ini penting demi memastikan pertanian Jateng tetap resilien, meminimalkan luasan lahan puso, serta mempertahankan status Jawa Tengah sebagai salah satu lumbung pangan utama nasional.

Ariston menegaskan bahwa penanganan dampak kemarau tahun ini harus dibagi dalam dua tahapan skema yang jelas dan terukur. Pria yang akrab disapa Ariston ini menyatakan bahwa prioritas jangka pendek atau operasional saat ini adalah fokus pada penyelamatan fase tanam yang sedang berjalan di lapangan melalui intervensi darurat secara langsung di zona-zona kritis.

“Untuk menyelamatkan tanaman padi warga yang tengah berjalan, mobilisasi pompanisasi massal harus segera dilakukan untuk menarik air dari sumber permukaan seperti sungai atau saluran primer langsung ke petak sawah. Kami mendesak Dinas Pusdataru berkoordinasi ketat dengan Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A) untuk menerapkan sistem gilir giring irigasi secara ketat dan transparan agar wilayah ujung saluran tetap kebagian air. Selain itu, pembuatan sumur pantek darurat di kawasan tadah hujan serta subsidi biaya operasional BBM untuk mesin pompa air petani mandiri harus segera direalisasikan,” ujar Ariston di Semarang, Sabtu (4/7/2026).

Urgensi penanganan darurat ini didasarkan pada proyeksi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan BMKG yang memperkirakan fenomena El Nino berpotensi bertahan cukup panjang hingga Mei 2027. Meluasnya zona musim kemarau serta peningkatan suhu udara harian menuntut kesiapan infrastruktur pengairan yang tidak hanya bersifat temporer, melainkan juga menyentuh aspek sistemik untuk membangun ketahanan sektor pertanian di masa depan.

Terkait langkah strategis jangka panjang, Ariston mendorong Dinas Pusdataru dan instansi terkait untuk memasifkan rehabilitasi jaringan irigasi tersier guna menekan risiko kehilangan air (water loss) selama distribusi dari bendungan utama. Pembangunan embung serta sarana penampung air (long storage) di sekitar kawasan sentra padi juga harus diperbanyak dengan prinsip memanen air sebanyak-banyaknya di musim hujan. Komisi D menilai, modernisasi infrastruktur pertanian lewat teknologi irigasi hemat air, seperti irigasi tetes (drip irrigation) atau pengairan berselang (intermittent irrigation), perlu mulai diperkenalkan pada kawasan yang langganan mengalami defisit air.

Di sisi lain, manajemen pertanian ke depan harus didukung oleh penerapan kalender tanam dinamis berbasis data presisi hasil sinkronisasi berkala antara data iklim BMKG dan Dinas Pertanian. Melalui skema ini, petani dapat diarahkan untuk beralih ke tanaman palawija atau varietas padi tahan kekeringan, seperti varietas gogo atau Inpari, jika prediksi kemarau maju lebih cepat. Sementara itu, terhadap lahan sawah yang telanjur mengalami gagal panen, Ariston mendesak pemerintah memangkas birokrasi verifikasi lapangan agar klaim dana Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP) bisa segera cair sebagai modal kerja petani pada musim tanam berikutnya.

You might also like

Terdepan dalam memperjuangkan kepentingan rakyat untuk mewujudkan Jawa Tengah yang berkarakter, bermartabat, adil, dan sejahtera

Menu