Brebes — Tingginya penggunaan internet di kalangan anak muda saat ini menuntut perubahan cara pandang. Menjelajah dunia maya tidak lagi cukup hanya sebatas hiburan, melainkan harus mulai diarahkan pada hal yang produktif.
Pesan tersebut disampaikan oleh Anggota Komisi E Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Jawa Tengah, Sururul Fuad, saat hadir memberikan motivasi kepada para mahasiswa dan pemuda di wilayah Brebes Selatan. Acara bertajuk Focus Group Discussion (FGD): Inkubasi Digital Communication ini turut dihadiri oleh para praktisi digital dan akademisi setempat.
Merujuk pada data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) yang secara konsisten menunjukkan bahwa kelompok usia produktif (Gen Z dan Milenial) mendominasi penetrasi internet di Indonesia dengan angka mencapai lebih dari 80 persen, Sururul Fuad menilai hal ini sebagai potensi sekaligus tantangan. Menurutnya, menghabiskan waktu berjam-jam di depan layar gawai adalah realitas keseharian, namun arah penggunaannya perlu dikendalikan.
“Teknologi informasi bukan hal asing bagi anak muda. Akan sangat baik jika para pemuda tidak hanya berhenti sebagai pengguna atau penikmat konten saja, melainkan bisa memanfaatkan dan mengendalikan teknologi untuk hal-hal yang positif,” kata Sururul Fuad di hadapan para peserta diskusi.
Sebagai wakil rakyat di Komisi E yang secara khusus membidangi urusan pendidikan, kesejahteraan rakyat, dan kepemudaan, Sururul Fuad memandang edukasi literasi digital tidak boleh berhenti pada cara memakai aplikasi, tetapi harus menyentuh ranah inovasi.
Dalam kapasitasnya sebagai Ketua Fraksi PKS DPRD Jawa Tengah, Sururul Fuad juga menegaskan komitmennya untuk terus mengawal kebijakan daerah agar lebih berpihak pada pengembangan kapasitas generasi muda, khususnya di wilayah yang jauh dari pusat ibu kota provinsi seperti Brebes Selatan.
“Sebagai anggota Komisi E, kami berkepentingan memastikan anak muda Jawa Tengah tidak sekadar menjadi target pasar perusahaan teknologi asing. Melalui Fraksi PKS, kami terus mendorong pemerintah provinsi untuk memperbanyak program inkubasi semacam ini. Mahasiswa dan pemuda Brebes punya potensi besar untuk menciptakan produk digital yang berdampak pada peningkatan ekonomi lokal, selama mereka diberi ruang dan pelatihan yang tepat,” tegasnya.
Sururul Fuad mengingatkan bahwa dunia maya selalu datang dengan peluang dan risiko. Ia meminta generasi muda memiliki kesadaran penuh saat berselancar di internet agar tidak mudah terjerumus pada konten negatif atau penipuan digital yang marak terjadi.
“Dengan kesadaran akan peluang dan risiko yang ada, harapannya para pemuda mampu mengontrol diri. Mereka bisa berkreasi dan berinovasi menghasilkan karya yang memiliki nilai edukasi ataupun ekonomi, tentunya dengan tetap mengedepankan etika dan kemanfaatan bagi masyarakat luas,” pungkasnya.