Brebes — Peran perempuan dalam ranah domestik maupun publik dinilai kian krusial dalam menentukan arah pembangunan daerah. Selain menjadi pilar stabilitas keluarga, keterlibatan aktif perempuan di sektor ekonomi dan literasi politik menjadi penentu utama dalam mewujudkan kesejahteraan masyarakat yang inklusif.
Hal tersebut ditegaskan oleh Ketua Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Jateng, Sururul Fuad, di hadapan ratusan perempuan yang tergabung dalam Rumah Keluarga Indonesia (RKI) di Kabupaten Brebes, Rabu (13/5/2026).
Menurut Sururul Fuad, perempuan memiliki dimensi peran yang sangat luas dalam membangun peradaban dan kemaslahatan umat manusia.
Dalam konstelasi politik kontemporer, Sururul Fuad yang membidangi sektor kesejahteraan rakyat di Komisi E DPRD Jateng ini mengingatkan bahwa suara perempuan bukan sekadar angka statistik dalam pemilu. Lebih dari itu, keberpihakan politik perempuan akan menentukan arah kebijakan publik yang berdampak langsung pada hajat hidup orang banyak.
“Dalam kehidupan politik, perempuan turut menentukan ke mana arah politik akan memberikan keberpihakan dan pembelaan terhadap masyarakat. Oleh karena itu, pengetahuan dan literasi menjadi landasan utama bagi perempuan dalam menentukan siapa yang patut diberi tanggung jawab sebagai pemimpin,” ujar Sururul.
Berdasarkan data orientasi pembangunan regional, keterwakilan dan partisipasi aktif perempuan dalam pengambilan keputusan terbukti linear dengan lahirnya kebijakan yang pro-kesejahteraan sosial, seperti peningkatan fasilitas kesehatan ibu dan anak, serta perluasan akses pendidikan.
Selain di sektor politik, peran strategis perempuan di bidang ekonomi juga menjadi sorotan. Sururul menilai, ketahanan ekonomi nasional dan daerah di masa-masa sulit sering kali diselamatkan oleh determinasi kaum perempuan yang bergerak di sektor domestik maupun usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Dalam struktur ekonomi Jawa Tengah, UMKM memegang peranan sebagai tulang punggung perekonomian dengan kontribusi yang signifikan terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB). Menariknya, mayoritas pelaku usaha mikro di sektor industri rumahan, kuliner, dan kerajinan tangan justru diinisiasi dan dikelola oleh perempuan.
“Dalam kehidupan ekonomi, perempuan adalah pengelola keuangan rumah tangga sekaligus pelaku UMKM dan penggerak ekonomi. Ketahanan pangan dan stabilitas daya beli masyarakat lapis bawah banyak bergantung pada kecakapan perempuan dalam mengelola aset ekonomi keluarga,” lanjutnya.
Di balik kontribusi publik yang besar tersebut, Sururul mengingatkan agar fungsi fundamental perempuan di dalam institusi keluarga tidak boleh terabaikan. Keluarga yang sehat dan harmonis merupakan hulu dari lahirnya generasi bangsa yang berkualitas.
Dalam konteks ini, perempuan berperan sebagai benteng emosional dan psikologis yang memberikan rasa aman (sakinah) di dalam rumah tangga.
“Dalam kehidupan keluarga, perempuan juga mampu memberikan rasa tenang dan aman yang sangat dibutuhkan suami ataupun anak-anak ketika menghadapi permasalahan yang rumit. Stabilitas psikologis di dalam rumah tangga inilah yang menjadi modal sosial utama dalam penyelesaian berbagai persoalan sosial di tingkat yang lebih luas,” pungkas Sururul.
Melalui program-program pemberdayaan seperti Rumah Keluarga Indonesia (RKI), Komisi E DPRD Jateng berharap sinergi antara peningkatan kapasitas ekonomi, penguatan literasi politik, dan penjagaan ketahanan keluarga dapat berjalan beriringan guna menekan angka kemiskinan dan stunting di wilayah pelosok Jawa Tengah.