Brebes — Ketua Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Jawa Tengah, Sururul Fuad, mendorong pemerintah daerah dan pemangku kepentingan untuk mengintensifkan sosialisasi kebijakan sekolah gratis bagi keluarga tidak mampu. Keterbatasan informasi di masyarakat ditengarai menjadi penyebab utama belum optimalnya penyerapan kuota pendidikan gratis yang disediakan pemerintah di sekolah-sekolah swasta.
Hal itu ditegaskan Sururul Fuad di sela-sela menghadiri pelantikan pengurus Lembaga Seni dan Qasidah Indonesia (Lasqi) tingkat kelurahan di Wilayah Kecamatan Paguyangan, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, Kamis (14/5/2026). Anggota legislatif yang membidangi urusan kesejahteraan rakyat ini menilai, jaminan akses pendidikan harus berjalan beriringan dengan ketepatan distribusi informasi.
Legislator yang membidangi Komisi E DPRD Jateng tersebut menjelaskan, untuk tahun ajaran 2026/2027, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah telah mengalokasikan sedikitnya 5.004 kuota bagi siswa dari keluarga kurang mampu. Kuota tersebut tersebar di 139 SMA dan SMK swasta di seluruh wilayah Jawa Tengah. Kebijakan merangkul sekolah swasta ini diambil sebagai langkah strategis untuk memperluas daya tampung, mengingat kapasitas sekolah negeri yang ada saat ini belum mampu menyerap seluruh lulusan tingkat SMP.
“Kebijakan ini sangat krusial untuk menekan angka putus sekolah, tetapi perlu disosialisasikan secara lebih masif kepada masyarakat. Berdasarkan pengalaman tahun-tahun sebelumnya, banyak kuota gratis di sekolah swasta yang justru tidak terserap. Sementara di sisi lain, di tengah masyarakat sebenarnya masih banyak keluarga kurang mampu yang sangat membutuhkan bantuan ini,” ujarnya.
Komisi E DPRD Jawa Tengah mengidentifikasi adanya sekat informasi (information gap), terutama bagi masyarakat yang tinggal di wilayah pelosok atau jauh dari pusat pemerintahan kabupaten. Akibatnya, alokasi anggaran yang telah disiapkan APBD untuk menyubsidi biaya pendidikan di sekolah swasta kerap kali tidak termanfaatkan secara maksimal.
Selain menyoroti isu krusial di bidang pendidikan, dalam momentum pelantikan pengurus Lasqi tersebut, Fuad juga memberikan perhatian khusus pada kelestarian seni dan budaya Islam di daerah. Di hadapan para penggiat seni, ia mengingatkan esensi kesenian tradisional sebagai instrumen edukasi dan syiar yang efektif.
Dirinya menyebut, qasidah bukan sekadar hiburan audio-visual semata, melainkan sarana dakwah yang santun untuk mengajak masyarakat menuju kebaikan.
“Ketika kita melantunkan sholawat dan orang-orang yang mendengar ikut bersholawat, maka pada titik itulah kita sudah mengajak orang lain berbuat kebaikan melalui medium seni,” terangnya.
Selepas prosesi pelantikan, acara dilanjutkan dengan gelaran Parade Qasidah yang menampilkan kemampuan dari 16 grup qasidah perwakilan desa/kelurahan di Kecamatan Paguyangan. Kehadiran ragam kelompok musik religi ini memperlihatkan tingginya potensi berbasis komunitas dalam merawat tradisi lokal di wilayah Brebes bagian selatan.
Sururul Fuad menyampaikan apresiasi mendalam kepada seluruh kelompok yang tampil menyemarakkan parade tersebut. Pihaknya berharap penguatan kelembagaan seperti Lasqi mampu membentengi moral generasi muda dari dampak negatif digitalisasi, sekaligus menggerakkan roda ekonomi kreatif berbasis syiar budaya di daerah.