Bicara Peran Ibu di SKI Salatiga, Ida Nurul Farida Ajak Ratusan Perempuan Salatiga Upgrade Diri

filter: 0; fileterIntensity: 0.0; filterMask: 0; module: video; hw-remosaic: false; touch: (0.475, 0.365625); sceneMode: 0; cct_value: 0; AI_Scene: (-1, -1); aec_lux: 265.95862; aec_lux_index: 0; albedo: ; confidence: ; motionLevel: -1; weatherinfo: null; temperature: 41;

Salatiga — Duta Rumah Keluarga Indonesia (RKI) PKS Jawa Tengah yang juga Anggota DPRD Provinsi Jawa Tengah, Hj. Ida Nurul Farida, M.Pd., mengajak ratusan ibu di Kota Salatiga untuk bergabung dalam Sekolah Keluarga Indonesia (SKI).

Salah satu poin penting yang ditekankan Ida dalam agenda SKI RKI di Salatiga tersebut adalah mengenai peran perempuan agar mampu memberikan manfaat bagi sesama. Untuk menjadi pribadi yang bermanfaat, seorang perempuan juga dituntut untuk senantiasa mengantongi ilmu atau berilmu.

Menurut Ida, sosok wanita memiliki tanggung jawab yang cukup berat. Begitu pula ketika seorang wanita menjadi seorang ibu, ia merupakan sosok teladan bagi anak-anaknya sekaligus sebagai pendidik utama di dalam keluarga.

“Sosok ibu itu sekaligus sebagai pendidik utama demi masa depan anak,” ungkap Ida Nurul Farida, Minggu (28/6/2026).

Acara yang digelar di tengah agenda reses Ida Nurul Farida di Salatiga tersebut juga dihadiri oleh Anggota DPR RI Daerah Pemilihan Jawa Tengah I (Kabupaten Kendal, Kabupaten Semarang, Kota Salatiga, Kota Semarang) Dr. H. Muh Haris, S.S., M.Si., yang juga mantan Wakil Wali Kota Salatiga dua periode, serta Ketua BIPEKA DPW PKS Jateng, Titik Anggraeni, S.Pd.

Lebih jauh, Ida memaparkan bahwa dalam program SKI RKI digambarkan bahwa wanita dalam keluarga memiliki delapan fase kehidupan. Salah satunya, sebelum menikah seorang wanita akan belajar, dan setelah menikah pun tetap membutuhkan proses belajar untuk menyesuaikan diri.

“Wanita sholeha adalah yang menjaga ketaatan kepada Allah, Rasul sebagai pilar negara. Karena wanita sholeha adalah yang menjaga menjaga ketaatan kepada Allah, Rasul sebagai pilar negara,” terang Ida.

Ia menambahkan, perempuan dapat menjadi agen perubahan bagi lingkungan agar menjadi lebih baik. Tujuan akhirnya adalah hadirnya pengaruh kebaikan dari perempuan bagi umat. Sebab, ketika seorang wanita taat dan tunduk setelah berilmu, maka melalui proses belajar tersebut ilmu tidak akan pernah habis.

“Tidak ada kata berhenti untuk belajar,” tandasnya.

Ida kembali menyampaikan bahwa sosok perempuan memiliki tugas yang luar biasa. Selain sebagai tiang agama, wanita yang salehah juga memiliki tugas untuk memperkokoh negeri. Ia menekankan, ketika seorang wanita menjadi sosok istri, ia harus taat kepada suami dan hal tersebut tidak mudah karena membutuhkan kesabaran serta sikap untuk tidak suka membantah.

Wanita salehah, menurut Ida, adalah mereka yang jika dipandang suaminya menyenangkan dan saat diperintah suami akan selalu taat. Begitu pula ketika ditinggal oleh suami, ia dapat menjaga diri dengan baik.

Oleh karena itu, ia mengajak para peserta yang sebagian besar merupakan kelompok Majelis Taklim se-Kecamatan Sidomukti, Salatiga, untuk selalu memperbaiki diri secara terus-menerus.

“Perlu diingat, ilmu Allah SWT itu sangat luas. Dan tidak ada kata berhenti untuk belajar dan menggapai ilmu,” imbuhnya.

You might also like

Terdepan dalam memperjuangkan kepentingan rakyat untuk mewujudkan Jawa Tengah yang berkarakter, bermartabat, adil, dan sejahtera

Menu